Siapa Sumber Sukacitaku?

Di tulisan kali ini, aku ingin membagikan hal yang aku dapatkan di salah satu sesi pada Retret Perutusan SEP OMK XVI kemarin yaitu sesi yang berjudul Yesus Sukacitaku.

Dari judulnya saja seharusnya sudah bisa ditebak sih apa kira-kira isi sesi ini. Lalu buat apa aku harus menulis tulisan ini kalau memang obvious? Alasannya adalah karena SUKACITA DARI YESUS BERKOBAR-KOBAR DALAM DIRIKU SAAT INI DAN AKU INGIN BERBAGI SUKACITA TERSEBUT. Disclaimer dulu nih, yang aku tulis disini creditnya buat Kak Berna, pengajar yang mengajar sesi ini, karena memang dialah yang menjelaskan hal ini dengan cara yang sangat mengena dan membuatnya menjadi terngiang-ngiang di kepalaku sampai saat ini.

Yesus sebagai sumber sukacita disampaikan dengan sangat epic mengunakan perikop Alkitab Lukas 24: 13 – 35 tentang peristiwa Yesus menampakkan diri dalam perjalanan ke Emaus. Mungkin kalian berpendapat sama sepertiku, “Oh itu mah aku udah tahu ceritanya, sering banget dibacain di gereja apalagi di Minggu Paskah”. Tetapi penafsiran yang diajarkan kemarin tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Kalau kata Kak Berna “Ini adalah perikop yang menggambarkan sukacita tetapi tidak ada sama sekali kata sukacita di dalamnya”. Bagi yang penasaran, boleh banget lho dibuka Alkitabnya dan dibaca perikop tersebut.

Jadi kisah ini dimulai dengan gambaran latar cerita pada ayat 13 – 16 yaitu dua orang murid Yesus yang sedang dalam perjalanannya ke Emaus ketika mereka tiba-tiba dihampiri Yesus tetapi mereka tidak dapat mengenalinya. Jika direfleksikan kepada kehidupan manusia saat ini, hal ini menggambarkan hidup kita yang seringkali terlalu sibuk dengan urusan-urusan duniawi, sibuk dengan kepentingan atau masalah kita sendiri sampai-sampai kita tidak mengenali kehadiran Tuhan dalam hidup kita.

Hal ini kemudian disusul dengan pertanyaan Yesus tentang apa yang mereka bicarakan yang malah disambut dengan muka muram (begitu Alkitab versi Bahasa Indonesia menerjemahkannya) dan penjelasan secara detail dari kedua murid tersebut tentang apa yang tengah terjadi pada ayat 17 – 25. Muka yang muram tersebut diterjemahkan sebagai downcast pada Alkitab Bahasa Inggris yang menurut Cambridge Dictionary memilik arti sad and without hope. Itu adalah level kesedihan yang jauh lebih dalam karena tidak adanya harapan yang malah memperburuk suasana kesedihan itu. Mungkin hal tersebut wajar apalagi jika mengingat hubungan yang dekat antara mereka berdua dengan Yesus sehingga mereka menaruh harapan padaNya yang akhirnya diluluhlantakkan dengan peristiwa kematian Yesus. Hal ini adalah penggambaran masalah-masalah yang kita hadapi sebagai manusia yang mungkin dirasa tidak ada lagi harapannya. Hal ini mungkin dikarenakan kita manusia yang seringkali menaruh ekspektasi terhadap sesuatu yang berujung pada kekecawaan saat harus menghadapi bahwa hal tersebut tidak terjadi sesuai ekspektasi kita.

Yesus memberikan respon atas keluh kesah kedua murid tersebut pada ayat 25 – 27. Terutama pada ayat 26, Dia menekankan “Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Hal ini berlaku juga untuk kita. Bukankah kita juga harus menderita terlebih dahulu untuk mendapatkan sukacita karena justru di dalam penderitaanlah kita dapat mengampuni dan ujungnya membuahkan sukacita.

Setelah mendapatkan respon Yesus, digambarkan pada ayat 29 kedua murid mendesakNya untuk tinggal bersama dengan mereka dengan alasan bahwa hari sudah hampir malam. Malam pada ayat ini adalah simbol masalah-masalah yang dihadapi manusia dan matahari hampir terbenam menunjukkan kondisi disaat harapan sudah hampir hilang. Pada saat-saat seperti ini, apa yang harus kita lakukan sebagai manusia? Ya, pada saat kesedihan datang padamu atau masalah melandamu, desaklah Yesus untuk tinggal bersamamu dan Dia pasti tidak akan menolak.

Setting cerita dilanjutkan dengan ayat 30 – 32 yang menggambarkan saat dimana Yesus akhirnya tinggal bersama mereka, memecahkan roti dan membagi-bagikannya pada mereka, dan pada saat itu, terbukalah mata mereka dan akhirnya mereka dapat mengenali Yesus namun saat itu juga Yesus hilang dari tengah-tengah mereka. Sebagai orang Katolik, ayat ini menunjukkan kuasa Misa Kudus. Melalui Ekaristi, mata kita sebagai manusia akan terbuka terhadap Tuhan dan kita dapat mencicipi sukacita surgawi. Gambaran Yesus yang hilang dari tengah-tengah mereka tersebut bukan menunjukkan bahwa Yesus meninggalkan mereka melainkan saat itu Yesus berpindah ke hati masing-masing mereka yang membuahkan sukacita hati yang berkobar-kobar. Yesus yang sama juga telah hidup di dalam hati kita semua manusia. Tidak ada hal apapun yang dapat kita sembunyikan dari Tuhan karena Dia mengetahui segala tingkah laku kita, dia mengetahui segala pergumulan kita, dan dia mengetahui segala doa dan permohonan kita.

Peristiwa tersebut kemudian ditanggapi dengan sangat bijak oleh kedua murid yang digambarkan pada ayat 33 – 35. Mereka segera berbalik Ke Yerusalem, tidak menunggu, langsung saat itu juga di saat hari masih malam dan gelap. Hal ini adalah hasil kesukaan yang mereka alami setelah bertemu Yesus. Sukacita tersebut tidak dapat dibendung sehingga tanpa menunda-nunda, mereka kembali ke Yerusalem untuk  berbagi dengan murid-murid Yesus yang lain. Perjalanan kembali ke Yerusalem itu menandakan proses kembali ke jalan Tuhan walaupun saat itu hari masih malam yang berarti masalah kita belum selesai. Percayalah dalam Yesus akan ada harapan untuk masalah tersebut. 

Jika aku harus menyimpulkan, berikut adalah intisari dari kisah tersebut untuk hidup kita sebagai manusia.

  1. Manusia seringkali mempunyai masalah yang mungkin disebabkan dirinya yang terlalu sibuk dengan urusan duniawi.
  2. Saat masalah itu datang bahkan saat kita merasa sudah tidak ada lagi harapan, desaklah Yesus untuk tinggal bersama kita dan Dia tidak akan menolak.
  3. Sebagai Katolik, hadirlah dalam Misa Kudus untuk dapat melihat Yesus melalui tubuh dan darahNya yang kita sambut.
  4. Di tengah semua masalah itu, Yesus tidak meninggalkan kita. Dia hidup di dalam hati kita masing-masing dan membawa sukacita dalam hidup kita.
  5. Saat sukacita tersebut sudah hadir di dalam diri kita, jangan menunda dan bagikanlah sukacita itu kepada semua orang.

Intinya sukacita itu adalah Yesus. Sukacita tersebut bersifat tetap, tinggal tanggapan kita sebagai manusia, apakah kita mau membiarkan Yesus hidup di dalam hati kita atau tidak dan apakah kita mau berkembang dalam iman dan taat selalu pada kehendak Tuhan? Semoga kita semua selalu dipenuhi oleh sukacita yang berasal dari Kristus. AMIN.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s