Karena Melalui Mereka Aku Mengalami Kasih Tuhan

Ada yang pernah tahu ga soal survey “Apakah kamu punya teman dekat yang berbeda agama?” yang dilakukan sekitar Mei 2017 silam. Survey yang dilakukan via Twitter ini menunjukkan bahwa 92% responden yaitu masyarakat Indonesia mempunyai teman yang berbeda agama, budaya, ataupun latar belakang, tetapi masih berteman dengan bahagia sampai saat ini.

Aku merupakan salah seorang yang sampai saat ini pun akan membenarkan hal tersebut. Aku memiliki banyak sekali sahabat yang berbeda baik agama, suku, ras, ataupun budaya denganku. Tetapi hal itu bukan menjadi persoalan untuk kami dapat bersahabat. Salah seorang yang sudah menjadi sahabatku sekitar 6 tahun, perkenalkan namanya Prima. Dia merupakan seorang muslim berdarah Sunda. Aku mengenalnya sejak kuliah dan persahabatan kita bukan suatu perjalanan yang mudah. Kita pernah bertengkar bahkan sampai tidak saling sapa hampir 6 bulan karena menurutnya aku kalau ngomong selalu marah-marah (padahal mah ya bawaannya orang Batak, maksud hati ga marah kok, tapi emang begitu dari sononya). Namun di balik itu semua, dia merupakan sosok malaikat untukku. Kami saling menghormati satu sama lain. Dia mengasihiku, selalu ada di saat aku membutuhkan, di saat aku menangis mengeluh soal ujian-ujianku yang sulit, menemaniku di kala aku sakit, meminjamkanku uang di saat kantongku seret walaupun dia juga berkekurangan, bahkan mengingatkanku ke gereja dan berdoa. Demikian juga aku pun mengasihinya. Aku selalu berusaha ada walaupun sekedar untuk mendengar keluh kesahnya, menemaninya di saat dia sakit, juga mengingatkan dia untuk sholat. Kita menjadi dua insan yang saling menopang dan ya melalui dia aku mengalami kasih Tuhan.

Pengalaman pribadi yang seperti ini sejujurnya yang terkadang membuat aku gemas setiap kali terjadi perselisihan di bangsa ini yang mengatasnamakan perbedaan. Sejujurnya aku masihlah seseorang yang optimis dan percaya bahwa Indonesia dengan segala keberagamannya memiliki orang-orang yang merindukan perdamaian di dalamnya. Sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia, bukan suatu gagasan sembarangan yang dibuat oleh Soekarno pada zamannya. Sudah menjadi identitas yang tidak dapat dielakkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang sangat beragam. Lantas yang menjadi penting adalah bagaimana kita menghayati makna sila ketiga Pancasila tersebut dan mengamalkannya, memandang keberagaman tersebut sebagai suatu hal yang memperkaya bukan malah menimbulkan perdebatan atau konflik.

Setelah aku pikir-pikir lagi, berdasarkan apa yang sudah aku alami bersama para sahabatku yang berbeda tersebut, rasanya aku berani dan dengan yakin mengatakan bahwa hal yang bisa membuatku tetap bersahabat dengan mereka hanyalah karena aku mengasihi mereka sama seperti mereka telah mengasihi aku. Sama seperti yang telah diajarkan Yesus, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” pada hakikatnya merupakan solusi untuk persatuan Ibu Pertiwi. Cina dalam film Cin(T)a (boleh banget ditonton kalau ada yang belum nonton) juga mengatakan, “makanya Allah nyiptain cinta, biar yang berbeda-beda, bisa nyatu.”

Ya, jawabannya adalah saling mengasihi. Rasanya tidak perlu muluk-muluk. Dimulai dari diri sendiri dan hal-hal kecil seperti memberikan senyuman terbaik untuk sesama di sekitar kita saja pasti akan berdampak besar. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Bunda Teresa, “What can you do to promote world peace? Go home and love your family”, mari kita saling mengasihi dan menjunjung persatuan Indonesia demi tanah air yang lebih baik

Aku mengasihimu saudara-saudariku sebangsa dan setanah air.

Selamat hari Pancasila.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s